OJK Segera Terbitkan Aturan Mengenai Engineering Fee

Industri perasuransian umum menyepakati komitmen untuk mengatur engineering fee yang saat ini tidak terkendali sehingga menggerus pendapatan perusahaan asuransi umum.

Kesepakatan ini merupakan hasil CEO Gathering bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan, sebagai salah satu rangkaian kegiatan 24th Indonesia Rendezvous yang digelar Asosiasi Asuransi Umum Indonesia di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (25/10).

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Riswinandi bilang, keluhan persoalan engineering fee berasal dari pelaku industri. Oleh sebab itu, pihaknya akan menunggu kesepakatan dari pelaku industri sembari melakukan kajian. “Jika aturan tadi memerlukan tindakan dari OJK, kami akan support. Kami tunggu dulu bagaimana SOP,” katanya usai agenda CEO Gathering.

Beliau menjelaskan, agenda CEO Gathering mempertemukan sejumlah CEO industri perasuransian umum untuk mengklarifikasi kondisi operasional dan sistem yang sudah dijalankan dalam bisnis asuransi umum. Lebih lanjut, OJK telah menerima banyak keluhan dari perusahaan asuransi terkait praktik engineering fee yang tidak terkendali sehingga menggerus pendapatan perusahaan. “Di dalam bisnis asuransi ternyata memang ketat, sehingga terjadi persaingan yang efeknya terhadap komisi yang diberikan kepada tertanggung yang mau menutup asuransinya. Sebab, era saat ini yakni mana yang bisa lebih murah,” tuturnya.

Menurutnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membuat keputusan regulasi mengenai polemik engineering fee bagi industri asuransi umum. Setelah itu OJK akan memperhitungkan untuk mengambil sebuah kebijakan bila diperlukan. Nantinya, kebijakan ini dapat bentuk surat edaran atau dalam peraturan.

Lanjut Riswinandi, dalam menghadapi masalah-masalah ini, OJK mendorong semua perusahaan asuransi untuk tidak mengikuti tindakan salah ini. Sebaliknya, semua pihak seharusnya menanggapi masalah dengan bijaksana dan berkomitmen untuk tidak menerapkan praktik engineering fee.

Guna menghindari engineering fee, OJK mendorong agar para pelaku industri asuransi umum untuk mendiversifikasi produk. Tujuannya, pasar tidak hanya akan fokus hanya pada lini bisnis Kendaraan Bermotor dan Properti.
AAUI sendiri menargetkan ketentuan engineering fee dapat selesai sebelum akhir tahun ini. Dengan demikian, implementasi engineering fee yang lebih terkendali dapat dilakukan mulai 2019.

AAUI segera mungkin untuk membuat aturan engineering fee sebelum akhir tahun ini. Hal tersebut dilakukan karena adanya kesepakatan dan komitmen dari pelaku asuransi untuk tidak mengimplementasikan biaya tersebut.
Ketua AAUI, Dadang Sukresna mengatakan, pihaknya sudah berkomitmen bersama dengan industri asuransi umum untuk tidak mengimplementasikan biaya akuisisi tersebut, yang saat ini sudah tidak terkontrol besarannya dan bisa menggerus laba perusahaan asuransi.

“Sepertinya akan keluar dari AAUI dulu untuk self regulating, kami bahas lagi dengan anggota, sebelum akhir tahun ini harusnya selesai. Kesepakatannya bisa beberapa, biaya akuisisi dikurangi atau bahkan dihilangkan, nanti akan diatur sebaik-baiknya,” jelas Dadang di Nusa Dua, Bali, Kamis (25/10).

Untuk menindaklanjuti hasil CEO Gathering yang salah satunya mengenai aturan Engineering fee, AAUI akan segera membahas kembali dalam kesempatan Rapat Umum Anggota AAUI yang akan digelar pada minggu ketiga November mendatang.

01 Comment

Leave A Comment