Dengan Adopsi Teknologi, Industri Asuransi Ditantang Ciptakan Produk yang Match dengan Keinginan Masyarakat

Indeks literasi asuransi Indonesia di tahun 2019 yang masih berada di angka 19,4% dan penetrasi asuransi yang baru di angka 3% menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan asuransi umum di tanah air. Industri asuransi dituntut untuk mampu memunculkan produk-produk yang inovatif, dengan mengadopsi teknologi dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. 

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Dody Dalimunthe dalam bincang-bincang kolaborasi Instagram Live Lifepal.co.id dan AAUI bertajuk Menciptakan Persaingan Sehat di Industri Asuransi, pada Jumat, (11/12/2020). Dody mengatakan, adopsi dan inovasi teknologi ke depan amat penting untuk meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia.

“Saat kondisi sekarang, kita perhatikan bahwa demografi masyarakat indonesia kebanyakan anak muda. Anak muda itu maunya experience dalam menghadapi suatu produk itu adalah produk yang bagus, sesuai dengan keinginannya, kemudian match dengan aktivitasnya. Maka teknologi adalah jawaban paling bagus untuk dimasukkan sebagai bagian dari proses bisnis asuransi. Baik itu dari penerimaan permintaan asuransi sampai menjadi polis, atau mungkin saat pelayanan klaim. Itu hal yang paling menarik,” ujar Dody yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Dewan Asuransi Indonesia tersebut.

Dody lantas menggambarkan, bagaimana kelak industri asuransi dapat memanfaatkan teknologi big data yang memungkinkan perusahaan asuransi membuat personalisasi produk, sesuai dengan risiko individu per individu.

“Di samping itu, kita melihat bahwa yang namanya orang itu berbeda-beda, sehingga muncul variasi risiko, variasi tarif, nah itu akan berbeda-beda. Saya punya mobil katakan, jalan cuma dua hari sekali, sekarang malah seminggu sekali atau seminggu dua kali. Harusnya, tarif asuransi saya lebih murah dibanding mobil yang tiap hari keluar dari garasi. Nah itu contoh saja, bagaimana kita bisa membuat suatu diferensiasi produk yang memang match dengan keinginan tertanggung. Nah itu bisa diwujudkan dengan teknologi. Kalau saya ternyata adalah pengemudi ugal-ugalan, maka dalam sistem rating juga akan berbeda dengan pengemudi yang bagus, mematuhi peraturan, angka kecelakaannya juga tidak terlalu besar,” katanya.

Kendati terdengar sangat rumit, namun Dody yakin produk-produk semacam itu kelak akan dipunyai perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia. Oleh karena itu, Dody mengungkapkan, pihaknya tengah mempersiapkan database system yang kelak dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan adopsi teknologi tersebut dalam industri asuransi.

“AAUI punya peran juga untuk bisa memperkenalkan bagaimana data itu bisa dipakai oleh semua perusahaan asuransi anggota AAUI. Ke depan kita sedang mencoba untuk membuat database. Mudah-mudahan dengan database system yang ada di AAUI, itu siapapun bisa mempergunakan itu, bukan cuma perusahaan asuransi, namun semua stakeholder dan masyarakat,” terang Dody.

Namun, bukan berarti apa yang sudah diupayakan perusahaan-perusahaan asuransi saat ini tak punya pengaruh pada penetrasi asuransi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan asuransi telah mengeluarkan produk asuransi mikro, yakni asuransi sederhana dari sisi pertanggungan, terjangkau dari sisi harga, dan cepat pada saat klaim. Asuransi mikro ini membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, untuk mengenal manfaat asuransi dalam kehidupan mereka.

“Kedepannya pasti tidak akan cukup karena asuransi mikro itu kan limited ya, rumah beli asuransi mikro, penggantian cuma 3 juta, sementara harga rumahnya 100 juta, ya dia kurang, tapi paling tidak dia sudah tahu dulu oh ternyata ada cover asuransi, berikutnya dia akan top up dengan polis yang seharga rumahnya tersebut,” pungkas Dody

Leave A Comment