Wawancara: Adi Pramana, Ketua Bidang Hubungan Internasional AAUI

Adi Pramana telah 20 tahun berkarir di industri asuransi, di usianya yang cukup muda beliau sukses meraih posisi direktur di beberapa Perusahaan asuransi. Saat ini beliau baru saja menjabat sebagai Direktur Utama PT Tugu Reasuransi Indonesia. Ditengah kesibukannya, redaksi SIMFONI bertemu untuk mewawancarainya, berikut petikannya:

  1. Sudah berapa lama Bapak berkarier di Industri Asuransi?

Tahun ini, genap saya berkarir 20 tahun di industri asuransi, saya masih ingat waktu itu bulan Februari 1999 saya mulai berkarir di industri ini.

  1. Apa yang menjadi latar belakang Bapak akhirnya berkarir di Industri Asuransi?

Memang situasi dan garis hidup yang akhirnya membawa saya ke dunia asuransi. Saat itu saya Sarjana di bidang Teknik pada tahun 1998, ketika krisis ekonomi besar melanda Indonesia, dan bukan hal yang mudah untuk bekerja di tahun tersebut.  Sebagai sarjana saya juga sempat magang satu bulan di pabrik, cuma saya merasa kurang pas dengan lingkungan pabrik. Akhirnya saya cari beberapa pekerjaan yang masih berhubungan dengan background saya, beberapa di antaranya building management, dan di bidang asuransi seperti surveyor, loss adjuster, maupun underwriter. Kebetulan ada perusahaan reasuransi yang membutuhkan, akhirnya saya pilih bidang asuransi. Meskipun waktu itu pada saat bersamaan saya diterima juga bekerja di Health and Safety di suatu pabrik ternama. Awalnya saya kira hanya dapat bertahan 6 bulan di bidang asuransi, namun ternyata bekerja di industri asuransi merupakan suatu hal yang membuat saya tidak pernah berhenti belajar, saya rasa itu yang paling menarik di industri ini. Selain itu menurut saya banyak profesi yang dapat digeluti di industri Asuransi ini, saya juga melihat  ke depan masih  banyak profesi baru di bidang asuransi yang akan muncul nantinya.

  1. Bapak sudah menjabat untuk posisi Direktur di usia yang cukup muda, pernah membayangkan menduduki posisi tersebut di usia muda?

Wah tentu saja tidak. Namun dulu sekali sewaktu masih sangat muda, pernah terbayang untuk pensiun sebelum usia 40, enjoying life more. Namun tanpa dinyana dengan menjadi direktur, saya benar-benar pensiun di usia sebelum 40. Enjoying life nya yang belum, hehehe…

  1. Sejak kapan Bapak bergabung menjadi pengurus di AAUI?

Saya waktu itu bergabung pertama kali menjadi pengurus sebagai anggota departemen reasuransi & pool, bidang Teknik, masa kepengurusan 2008-2011. Saya masih ingat waktu itu ketua departemennya Bapak Robby Loho, beliau yang mengajak saya bergabung di AAUI. Kemudian di kepengurusan 2011-2014 berikutnya saya masih sebagai anggota departemen reasuransi. Di 2014-2017 saya ketua Departemen Hubungan Internasional Non Asean, bersama Pak Christian. Dan akhirnya sekarang di masa 2017-2020 sebagai Wakil Ketua AAUI/ Ketua Bidang Hubungan Internasional.

  1. Apa yang melatarbelakangi Bapak menjadi di pengurus AAUI?

Latar belakang? Mungkin awalnya karena saya mengikuti General Course Insurance School of Japan yang seleksinya dilakukan oleh AAUI di tahun 2001, dimana kita mengikuti pendidikan selama 2 minggu dengan living cost ditanggung. Ya sejak saat itu saya kira kita commit membangun industry, karena AAUI juga sudah memberikan fasilitas kepada saya. Namun kebetulan di tahun 2002-2004 saya ada tugas belajar. Memang cukup lama akhirnya baru terlibat di kepengurusan tahun 2008, ketika ada ajakan menjadi pengurus, ya tidak ragu-ragu. Di samping itu selalu ada tantangan baru yang dihadapi sebagai pengurus dimana saya terlibat, mulai POJK mengenai reasuransi, integrasi Masyarakat Ekonomi Asean, dan terakhir perubahan platform bisnis kedepan.

  1. Saat ini Bapak menjabat Ketua Bidang Hubungan Internasional, apa yang menjadi tantangan utama bidang Hubungan Internasional setiap tahunnya?

Hajatan terbesar bidang HI dari dulu adalah Indonesia Rendezvous. Baru 5 tahun lalu kami rancang AAUI Internasional Seminar, dan Alhamdulillah dari tahun ke tahun respon dan perkembangannya semakin membaik. Di samping itu kita juga mulai meratakan konsentrasi kegiatan, termasuk kerjasama dengan asosiasi asuransi umum negara lain. Dulu sudah ada MOU dengan General Insurance Association of Japan (GIAJ), dan baru dibuat MOU dengan General Insurance Association of Korea (GIAK).

Adapun untuk tantangan saat ini adalah bagaimana untuk dapat meningkatkan kerjasama tersebut. Sekarang dengan Korea sudah cukup baik, karena mereka juga sudah jadi narasumber baik di 4th IIS maupun 24th IR, bahkan sudah ada undangan ke anggota untuk belajar ke Korea selama 6 bulan. Dengan Persatuan Insurans Am Malaysia (PIAM) juga baik, terakhir AAUI cabang Medan dan perwakilan bidang hubungan internasional Bapak Mardian melakukan kunjungan kerja kesana. Belum lama ini juga ada kerjasama dengan Philippine Insurers and Reinsurers Association (PIRA), karena kami lihat mereka punya karakter risiko yang hampir mirip dengan Indonesia, dan sudah menjadi narasumber di 5th IIS. Tantangan terbesar setiap tahunnya tentu saja bagaimana meningkatkan kualitas hubungan, kegiatan, sehingga dapat bermanfaat bagi anggota AAUI dan industri asuransi.

Contohnya apa yang dilakukan GIAK (Korea), mereka setiap tahun mengirim anggotanya untuk belajar asuransi ke luar negeri, dan infonya sudah punya 60 profesor di bidang asuransi dan yang setara. Nah, mereka inilah think tank GIAK dalam membuat policy, berdiskusi dengan pemerintah, sehingga literasi asuransi masyarakat Korea mencapai 90%, bandingkan dengan Indonesia yang baru 15%. Masih banyak yang bisa kita lakukan, dan saya optimis.

Selain itu saya juga bersyukur karena di Tim Hubungan Internasional juga didukung dengan tim yang sangat mumpuni ada Ibu Rismauli Silaban (Ketua Dept. Conference), Ibu Indah Dwi Yuniati (Ketua Dept. kerjasama Non Asean), Bapak Mulia (Ketua Dept. Kerjasama Asean) dan rekan-rekan lainnya yang relatif masih muda-muda, serta rekan-rekan sekretariat AAUI yang selalu bekerja sangat keras dalam mendukung kegiatan bidang Hubungan Internasional.

  1. Tahun ini Indonesia Rendezvous memasuki usia yang ke-25 atau memasuki tahun perak, apakah ada yang berbeda atau spesial dari Indonesia Rendezvous tahun ini?

Tentu ada yang  spesial karena ini yang ke-25 tahun, akan banyak yang berbeda, baik dari segi isi maupun tampilan acara. Tema Indonesia Rendezvous tahun ini adalah Reload, Reshape, Reengage: Ready for next 25 years. Intinya tahun ini kita mau flashback apa yang sudah terjadi dan kita pelajari selama 25 tahun ke belakang, serta bagaimana AAUI lebih terlibat kepada millennials yang akan memandang asuransi sebagai sesuatu yang mungkin saja jauh berbeda dengan praktek sekarang. Kami sangat excited mempersiapkan Indonesia Rendezvous tahun ini.

  1. Bapak baru saja menjabat sebagai Direktur Utama PT Tugu Reasuransi Indonesia (TuguRe), apa yang menjadi target Bapak saat ini dengan posisi baru sebagai Direktur Utama?

Ya tentunya ada target jangka pendek, menengah dan panjang. Saya hanya akan share yang jangka pendek. Alhamdulillah sumber daya di TuguRe juga baik, tinggal perlu beberapa peningkatan. Peningkatan komunikasi dan service, baik eksternal maupun internal. Juga peningkatan dan percepatan bisnis proses. Selain itu dari segi Enterprise Risk Management juga kami perkuat.

  1. Tahun depan AAUI akan melakukan kongres untuk pemilihan Ketua baru, apa harapan Bapak untuk AAUI di periode selanjutnya?

Harapannya agar AAUI ke depan semakin fleksibel dan dinamis dengan perkembangan industri, baik makro maupun mikro. Saat ini sudah cukup baik, namun tantangan akan makin besar dan kita harus semakin cepat melakukan perubahan dan antisipasi. Terutama model bisnis yang tentunya akan banyak berubah nantinya.

  1. Bapak pernah menjabat Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), apakah Bapak  berminat untuk maju sebagai calon Ketua AAUI di periode selanjutnya?

Waah, menjabat sebagai Ketua Asosiasi merupakan kerja yang tidak ringan, perlu komitmen dan dedikasi waktu yang tinggi. Saya rasa di industri kita banyak kandidat lain yang capable, namun mungkin terhambat oleh birokrasi di masing-masing perusahaannya.

  1. Terakhir, apa kritik dan harapan bapak untuk industri Asuransi Umum saat ini?

Secara keseluruhan masih sangat banyak peluang di industri asuransi umum, apalagi dengan literasi yang masih rendah. pendapatan per-kapita yang masih berkembang, dan perkembangan profesi ke depan seperti data analyst, insurance investigator dan lainnya. Kritik tentu saja tentang infrastruktur asuransi umum harus lebih banyak diperbaiki, sehingga industri kita juga lebih tahan banting. Dan ini semua hanya bisa dilakukan secara bersama-sama dengan inisiasi dari industri asuransi umum itu sendiri.

(Tulisan ini pernah ditayangkan di Majalah Simfoni AAUI Edisi XII)

Leave A Comment