Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pada Kuartal IV Minus 2,19%

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 minus 2,19% secara year-on-year (YoY).

Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sepanjang tahun 2020 adalah minus 2,07%. Hasil ini juga menandakan Indonesia masih terjebak dalam  resesi akibat pertumbuhan ekonomi negatif selama tiga kuartal beruntun.

Kepala BPS, Suhariyanto melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2020 tumbuh -2,19% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Ini membuat ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) dalam tiga kuartal beruntun.”PDB kuartal IV-2020 membaik dari kuartal sebelumnya walau secara keseluruhan masih melemah,” kata Suhariyanto dalam press conference virtual, Jumat (5/2/2021)

Dengan hasil ini perekonomian Indonesia masih berada dalam fase resesi, Adapun secara kuartalan, ekonomi tumbuh sebesar minus 0,42 persen. Dibandingkan kuartal III/2020, realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut membaik.

Meski hasil secara kuartalan mengalami sedikit perbaikan, capaian tersebut belum membuat Indonesia keluar dari resesi, sepanjang tiga kuartal pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontrasi atau minus. Pada kuartal II 2020 ekonomi Indonesia terkontraksi minus 5,32 persen, dan minus 3,49 persen pada kuartal III 2020.

Lebih lanjut Suhariyanto mengatakan, catatan itu sekaligus menandakan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk pertama kalinya mengalami kontraksi pasca krisis moneter 1998.

“Untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi sejak tahun 1998. Pada 1998 karena krisis moneter dan tahun 2020 mengalami pandemi,” ungkapnya.

Catatan di 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya jauh mengalami kontraksi yang lebih parah selama empat kuartal berturut-turut. Sehingga di sepanjang 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 13,1 persen.

Hampir semua negara di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif imbas dari pandemic covid1-19, tercatat dari angka yang sudah dirilis bahwa ekonomi Amerika Serikat minus 3,5%, Singapura minus 5,8%, Korea Selatan minus 1,01%, Hong Kong juga lebih dalam yaitu minus 6,1%, dan Uni Eropa minus 6,4%.

Namun, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mencatat, pengecualian untuk ekonomi China dan Vietnam yang perekonomiannya tetap tumbuh positif di sepanjang 2020 yang dilihat dari berbagai indicator.

Hanya China dan Vietnam yang tetap umbuh positif masing-masing 2,3 persen dan 2,9 persen di sepanjang 2020,” tutupnya.