Peluncuran Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK) di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Berjalannya program APPIK merupakan hasil kerja sama KKP dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).  Diketahui ada 12 perusahaan asuransi untuk APPIK. Kedua belas perusahaan tersebut adalah PT Asuransi Jasa Indonesia (persero) sebagai pemimpin perusahaan asuransi, PT Asuransi Asei Indonesia, PT Asuransi Astra Buana, PT Asuransi Bhakti Bhayangkara, PT Asuransi Binagriya Upkara, PT Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur, PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Jasaraharja Putera, PT Asuransi Jasa Tania, Tbk., PT Asuransi Kredit Indonesia (persero), PT Asuransi Mega Pratama, dan PT Asuransi Purna Artha Nugraha.

“APPIK ini merupakan salah satu wujud sinergi KKP dengan OJK untuk menjembatani beberapa jasa lembaga keuangan yang bisa membantu menyukseskan program di KKP,” ujar Muhammad Ihsanuddin selaku Direktur Pengawasan Jasa Keuangan di Dewan Komisioner Pengawas IKNB .

Ihsanuddin mengatakan, beberapa waktu lalu OJK dan KKP sudah meluncurkan terlebih dahulu AUBU yang dinilai sukses. Kesuksesan inilah yang mendorong OJK dan KKP meluncurkan APPIK dengan cakupan diantaranya yakni ikan bandeng, nila, dan patin.

Dari program asuransi budidaya ikan kecil ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan inklusif di Indonesia. Menurut Ihsanuddin, APPIK merupakan kerjasama yang sangat menguntungkan bagi semua pihak.

“Secara prinsip asuransi budidaya ikan kecil ini ada di dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang memiliki target pencapaian inklusif 75%, sementara sampai saat ini inklusifnya hanya 48%. Masih kecil sekali jadi perlu kerja keras kita bersama (untuk mencapai target) dan ternyata KKP memiliki program asuransi untuk pembudidaya nelayan ikan kecil yang sangat cocok dengan SNKI tersebut,” katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebijakto mengatakan, asuransi ini bertujuan memberikan perlindungan untuk para pembudidaya ikan di tanah air. Yakni risiko akibat kematian bibit atau kerugian usaha di atas 50 persen. “Pembudidaya kecil itu yang memilki luas lahan tidak lebih dari lima hektare dan dikelola secara tradisional. Insya Allah nanti akan mengarah ke semua (komoditas perikanan),” kata dia.

Slamet mengungkapkan, sebelumnya program asuransi ini hanya dikhususkan untuk para pembudidaya udang. Sehingga lahirlah pengembangan Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU). Kedepan, pihaknya akan berupaya mengakomodasi seluruh pembudidaya seluruh komoditas perikanan. “Sehingga asuransi ini, khususnya untuk pembudidaya ikan kecil ini semakin terasa dan bermanfaat untuk masyarakat. Sekarang kita sudah mulai mendata sebanyak-banyaknya pembudidaya untuk ikut dalam asuransi ini,” tutupnya.

Berdasarkan kesepakatan KKP bersama AAUI, premi asuransi yang ditawarkan bagi pembudidaya ikan kecil adalah sebagai berikut:

Ikan Patin
Luas kolam: 250 meter persegi
Premi/siklus: Rp 45 ribu
Premi/tahun: Rp 90 ribu
Santunan/siklus: Rp 1,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 3 juta

Ikan Nila Payau
Luas kolam: 1 hektare
Premi/siklus: Rp 75 ribu
Premi/tahun: Rp 150 ribu
Santunan/siklus: Rp 2,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 5 juta

Ikan Nila Tawar
Luas kolam: 200 meter persegi
Premi/siklus: Rp 45 ribu
Premi/tahun: Rp 135 ribu
Santunan/siklus: Rp 1,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 4,5 juta

Ikan Bandeng
Luas kolam: 1 hektare
Premi/siklus: Rp 45 ribu
Premi/tahun: Rp 90 ribu
Santunan/siklus: Rp 1,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 3 juta

Polikultur
Luas kolam: 1 hektare
Premi/siklus: Rp 75 ribu
Premi/tahun: Rp 225 ribu
Santunan/siklus: Rp 2,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 7,5 juta

Udang
Luas kolam: 1 hektare
Premi/siklus: Rp 75 ribu
Premi/tahun: Rp 225 ribu
Santunan/siklus: Rp 2,5 juta
Maksimum santunan/tahun: Rp 7,5 juta

Leave A Comment