SEJARAH AAUI

Perjalanan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) tidak bisa dilepaskan dari organisasi bernama Dewan Asuransi Indonesia (DAI) yang berdiri sejak 01 Februari 1957. Pada awalnya seluruh perusahaan Asuransi Umum, Asuransi Jiwa dan Asuransi Jaminan Sosial berhimpun di bawah DAI.

Pada kongres DAI ke X tanggal 22-23 Januari 2002 para anggota DAI memutuskan untuk mendirikan asosiasi sejenis sesuai dengan bidang usaha masing-masing.

Untuk perusahaan asuransi umum & reasuransi dibentuklah AAUI dengan anggaran dasarnya telah didaftarkan dalam Lembaran Negara No. 2 tahun 2002 – Tambahan berita Negara RI tanggal 21 Juni 2002  No. 50.

 

VISI AAUI :

Terciptanya industri asuransi umum yang sehat dan dinamis, serta memiliki kapasitas nasional yang kuat, guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
MISI AAUI :
1. Menyediakan perlindungan asuransi yang terpercaya
2. Menjadi penghimpun sebesar-besarnya dana masyarakat
3. Menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja
4. Menjadi pelaku yang kuat dan mandiri dalam negeri
5. Menjadi sendi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

LANDASAN HUKUM

Berdasarkan UU No. 40 tahun 2014 tentang Perasuransian.

 BAB XIV

 ASOSIASI USAHA PERASURANSIAN

  Pasal 68

  (1)          Setiap Perusahaan Perasuransian wajib menjadi anggota salah satu asosiasi Usaha Perasuransian yang sesuai dengan jenis usahanya.

  (2)          Asosiasi Usaha Perasuransian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat persetujuan tertulis dari Otoritas Jasa Keuangan.

 Pasal 69

  (1)          Otoritas Jasa Keuangan dapat menugaskan atau mendelegasikan wewenang tertentu kepada asosiasi Usaha Perasuransian  dalam  rangka  pengaturan dan/atau pengawasan Usaha Perasuransian.

Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan atau pendelegasian wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.

 

TUGAS POKOK AAUI

antara lain :

1. Memberlakukan standar praktek dan kode etik penyelenggaraan usaha asuransi dalam rangka memelihara terciptanya persaingan pasar yang sehat:

2. Mengkoordinir pelaksanaan pembentukan profil risiko, standar polis dan produk semacamnya;

3. Mengoptimalisasikan kapasitas retensi asuransi nasional;

4. Mengkoordinirupaya bersama dalam penanganan risiko khusus;

5. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan asuransi.

6. Mengeluarkan sertifikat keagenanan asuransi umum.