Asuransi Harus Jaga Manajemen Risiko

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Hastanto S M Widodo mengungkapkan, akibat pandemi Covid-19 saat ini, ketidakpastian begitu tinggi, sehingga industri asuransi perlu berhati-hati dengan tetap menjaga tata kelola dan manajemen risiko. “Faktanya sekarang sedang masa susah.

Sebagai industri yang menjanjikan keamanan pada saat-saat situasi sulit, industri asuransi tentu harus bisa menjaga, baik dari sisi cash flow, sisi likuiditas, maupun sisi solvensi. Jadi, manajemen aset dan liabilitas perlu benar-benar dijaga, karena itu akan menjadi bagian dari pemenuhan janji-janji kita,” kata Widodo.

Dia menjelaskan, beberapa waktu belakangan ada tendensi buruk dari sejumlah perusahaan asuransi yang berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi. Sayangnya, kepercayaan masyarakat harus diraih, bukan diminta. Karena itu, sekarang adalah saat yang tepat bagi industri asuransi untuk kembali meraih kepercayaan terbaiknya.

“Mungkin sekarang juga saatnya menunjukkan fungsi dari bisnis asuransi seperti apa. Asuransi itu harus hadir saat susah seperti ini. Asuransi hadir bukan hanya jualan janji, tapi sekarang adalah pembuktian bahwa asuransi itu datang pada masa sulit.

Kebetulan kalau dengan kondisi susah ini kita bisa membuktikan, misalnya ada perusahaan yang membagi sembako. Itu sebuah bukti adanya niat untuk menjaga komitmen,” papar Widodo. Menurut Direktur Eksekutif AAUI, Dody AS Dalimunthe, sebagai institusi bisnis, perusahaan jasa asuransi harus menunjukkan pelayanan yang baik kepada pihak tertanggung maupun masyarakat pada umumnya.

Prestasi perusahaan asuransi adalah saat penanganan klaim, sebab di situlah mereka akan beriklan untuk memberikan kesan baik atau buruk. “Masih rendahnya penetrasi asuransi menunjukkan masyarakat belum banyak yang mengerti asuransi. Maka literasi asuransi harus dilakukan dengan memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat. Perusahaan asuransi juga harus menunjukkan performa yang bagus agar masyarakat yakin bahwa perusahaan asuransi menjalankan tata kelola yang baik (good corporate governance/ GCG),” tegas dia.

Terlepas dari penetrasi, kata Dody, fungsi pengawasan di perusahaan asuransi harus diperkuat. Evaluasi dan kontrol proses bisnis harus dilakukan dengan mengacu pada standard operating procedure (SOP) internal.

Pengawasan internal juga harus dilakukan oleh auditor independen melalui data dan laporan yang disatukan secara transparan, serta dapat diakses publik. “Kecuali itu, pengawasan oleh regulator sangat diperlukan untuk memastikan operasional perusahaan telah dilaksanakan sesuai ketentuan regulasi. Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah kontrol dari pertanggung maupun masyarakat,” tutur dia.

Dia menambahkan, pandemi covid-19 adalah momentum untuk memberikan empati kepada masyarakat, terutama yang terdampak Covid-19. Hal itu bisa menunjukan bahwa perusahaan asuransi turut hadir saat masyarakat tengah kesulitan. Langkah itu banyak dilakukan perusahaan yang menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) guna meringankan beban masyarakat. “Ini adalah marketing jasa asuransi secara tidak langsung. Dengan turun ke masyarakat maka masyarakat akan mengenal perusahaan asuransi.

CSR itu dapat juga dilakukan dengan memberikan coverage asuransi gratis, seperti produk asuransi mikro. Lebih dari itu, penanganan klaim asuransi harus dilakukan secara professional dan transparan,” tandas dia

Sumber berita: https://investor.id/finance/asuransi-harus-jaga-manajemen-risiko

Leave A Comment